Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

02 April 2010

Kisah Si Jambon dan Si Ungu






Dulu hatiku selalu berwarna merah
Sampai suatu saat dia berubah menjadi ungu
Untuk waktu yang cukup lama

Suatu hari kamu datang dalam hidupku
Dengan membawa hati jambonmu
Kau mengusik hati unguku
Sekarang dia jadi berubah
Uhhh plin plan abis deh pokoknya

Ikutan jambon waktu mengingat kenangan manis bersamamu
Menjadi biru saat sedih memikirkanmu
Menjadi maroon saat terbakar api cemburu
Kuning keemasan saat tak sabar ingin menemuimu
Menjadi transparan saat malu berada di hadapanmu
Putih kehijauan saat merasa dicuekin olehmu
Merah meradang saat kau buat marah
Warnanya selalu berubah seperti bunglon

Kamu tahu, yang lebih aneh lagi
Sekarang dia juga memiliki sayap-sayap kecil yang sangat rupawan
Dia bisa menghilang tiba-tiba dan muncul kembali sebelum orang lain menyadarinya
Hati unguku jadi sering senyum-senyum sendiri
Kadang melamun sampai terantuk sesuatu tanpa sadar
Sesekali nggak nyambung kalau diajak bicara
Jadi suka dandan dan lebih rajin mandi
Kepalaku pusing melihat tingkahnya

Semuanya karena kehadiran hati jambonmu
Ck ck ck ... efeknya sungguh luar biasa
Memangnya sudah kauapakan dirinya?
Kamu nggak handsome, biasa aja tuh
Kamu juga bukan orang yang kaya ...
Hmmm ... sebentar, coba kutanya dulu padanya ya

*Kasak kusuk bentar sama Si Ungu, sambil manggut-manggut, menaikkan alis sebelah ala The Rock. Catet sana sini, sambil melap keringat di dahi.*

Bocorannya gini ...
Si Jambon nih katanya baik dan tulus
Pintar, pemikiran dan bicaranya berisi
Selalu profesional dan konsekuen sama janji
Dia pendengar yang baik dan sabar untuk setiap cerita dan keluh kesah orang sekitar
Tahu kapan harus jadi pengamat, kapan harus berpendapat
Selalu bisa membuat Si Ungu tertawa, sedongkol apa pun hatinya
Tuh yang bikin Si Ungu kagum sama dia
Tuh yang bikin Si Jambon keren banget di matanya

So, what's next?
Ya mboh, emang gue pikirin
Tanya aja sendiri sama dua hati itu
Aku kan bukan babysitter-nya ... xi xi xi ...

Batam, 3 April 2010, 06.30
...cerita iseng menjelang pagi...

Sumber gambar : http://fridaythe13th.deviantart.com/art/tRue-Love-is-a-Potion-146922966

01 Maret 2010

Andai Dia Tahu



Dua anak manusia itu duduk berdampingan. Memandang kejauhan tak saling bicara. Suara debur ombak yang memecah pantai, tidak lagi terdengar indah di telinga. Angin laut lembut membelai wajah, pasir putih di sela jemari … tak ada yang sanggup menarik perhatian mereka. Senja itu terasa panjang nyaris abadi. Sesekali Bayu menengok Agni. Banyak kata yang ingin terucap tapi hanya tersekat di tenggorokan.

Kata-kata Agni masih terngiang di telinganya,”Aku harus pergi jauh dari sini. Mungkin kita takkan bertemu lagi.” Kata itu singkat, tapi bermakna sangat dalam. Bukan itu yang ingin didengar dari mulut makhluk indah yang disayanginya itu.

Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Agni adalah nafas dalam hidup Bayu. Dia sudah sangat terbiasa dengan kehadirannya. Apa saja bisa menjadi bahan pembicaraan buat mereka. Bayu selalu ada untuknya, juga sebaliknya. Di saat salah satu jatuh cinta, di saat hati hancur karena kecewa. Di saat semua tampak indah, di saat dunia meninggalkannya. Kedekatan hati mereka tak terlihat, tapi sangat kental terasa.

Saat kata-kata tersebut keluar dari mulut cantik itu, serasa ada sesuatu yang hilang. Bagai petir menyambar di siang bolong. Sebongkah besar hatinya terenggut. Tak pernah terpikir ada hari di mana tak kan ada Agni. Tak pernah ada kata cinta di antara mereka. Mungkin tak ada yang berani menyebut kata itu terlebih dulu. Tak ada yang ingin merusak persahabatan indah yang tlah lama terjalin.

Apakah sekarang semua sudah terlambat …

Tampak begitu indah
Sekaligus menyakitkan
Tak mungkin dikatakan cukup rasakan

Sama-sama tahu
Sekaligus tak mau tahu
Tak dapat kuingkari ntah dengannya

Hujan merah basahi hati
Sebagian sukma lenyap terseka
Luka itu menganga berdarah


Mata Agni basah sudah. Pedih sekali hatinya. Tak mungkin untuk mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia harus pergi. Waktunya tinggal beberapa bulan lagi. Tumor otak yang divoniskan dokter kepadanya kemarin, sudah terlampau besar untuk dioperasi, anak sebarnya sudah mulai didapat di tempat lain. Sakit kepala yang selama ini sering terjadi padanya, ternyata ada yang mendasari. Ada yang mendalangi.

“Aku ingin kau tetap mengingatku seperti saat ini, Yu. Begitu juga aku ingin mengingatmu sebagai dirimu sekarang. Di saat aku masih terlihat cantik dan sehat. Di saat ingatanku masih utuh,” teriaknya dalam hati. “Aku tidak ingin kau melihat penderitaanku nanti. Biar kulewatkan saat itu sendiri. Aku tidak mau melihatmu sedih.”

Kurasa takkan bertemu lagi
Seabad rindu kan tak terjawab
Gaung sedih tak mungkin terucap

Walau mata terpejam kutindih gunung
Rasa itu tak mau pergi
Bara api di pelupuknya


Senja itu akhirnya berakhir juga, hati Bayu mencair tak bersisa. Ia hanya dapat memandang bahu perempuan terkasihnya, saat sahabat belahan jiwanya beranjak menjauh. Ingin menahannya selama mungkin di sini, paling tidak selama sisa malam ini. Tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya … senyap tanpa suara … “Akankah suatu saat kita bisa bertemu kembali, akankah saat itu kan datang lagi? Doaku selalu untukmu, di mana pun engkau berada, Agniku sayang …”

Biar tersimpan saja dalam satu ruang hati
Rasa yang tak dapat kucegah hadirnya
Yang takkan pernah tersampaikan padanya


Cinta itu memang rumit. Datang dan pergi sesuka dia. Mengalir begitu saja, sering tanpa sempat disadari. Mengobrak-abrik hati anak manusia. Seperti batu yang terlempar di batas air yang tenang, riaknya segera hilang kembali seperti tak pernah terjadi apa pun.

Cinta yang tulus dan dalam muncul melalui suatu proses yang panjang. Takkan ada begitu saja dengan mudah tanpa alasan. Benang merahnya sulit terlihat. Masih perlukah dibahas dan dipertanyakan? Dia kan abadi di dalam hati. Memberi warna di kehidupan pemiliknya …

Batam, 24 Februari 2010, 23.21

Sumber gambar : http://i523.photobucket.com/albums/w354/BabyUgs/Hearts/HeartBroken.jpg

25 September 2009

First Love Never Die ...


Josh : ‘Aku bingung …’


Jill : ‘Kenapa?’


‘Hatiku kacau balau … kenapa di saat aku mulai bisa melupakannya, dia muncul kembali? Di waktu dan tempat yang salah.’


Hening sejenak … Sayup-sayup terdengar alunan musik lembut dari dalam gedung. Angin di balkon semilir menerpa wajah kami. Lampu-lampu gemerlap terlihat dari kejauhan, indah sekali. Josh dan aku sedang berada di pesta pernikahan seorang teman, yang merupakan teman baik kami bedua. Kami didaulat untuk menjadi pengapit mempelai, aku berpasangan dengannya. Sudah lama tidak bertemu. Seseorang yang pernah kukagumi diam-diam. Kami berpisah karena aku mengikuti orang tua yang pindah ke Jakarta.



‘Di saat aku sudah mulai bisa melupakannya, berusaha menemukan penggantinya.’

Pandangan mata itu tampak sedih, jelas sekali kegalauan hatinya.

‘Sejak kehadirannya kembali, semua jadi serba salah, tidur salah, makan salah, kerja salah.’


Seandainya … seandainya … siapa sih perempuan yang sangat beruntung, mendapat cintamu yang begitu dalam? Andai kau belum ada yang punya … duhhh. Aku minum sedikit wine dari gelas yang kupegang. Sambil memainkan hiasan bunga di pergelangan tanganku. Gaun panjang warna putih tulang yang kupakai memang sedikit tak nyaman. Tapi aku menyukainya, potongan lehernya yang berbentuk sabrina, hiasan bunga-bunga kecil berwarna lembut di bagian dada dan pinggang. Rambutku disanggul ke atas, dengan hiasan bunga-bunga kecil senada, dengan sedikit anak rambut yang dibiarkan terjatuh, mempercantik leherku yang jenjang. Anggun sekali. Yang nggak tahan sepatu hak tinggi ini, kakiku lelah sekali dibuatnya.


Kupandangi wajahnya yang galau. Dia sangat tampan dalam potongan jas putih itu. Tubuhnya tinggi dengan dada yang bidang, perawakan sedang. Rambut hitam yang sedikit ikal tersisir rapi. Hmmm … bau parfumnya macho banget, campuran rempah-rempah yang segar. Membuatku ingin dekat-dekat dengannya. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. ‘Kamu kedinginan, Jill? Nih pake jasku aja,’ katanya sambil melepaskan jas tersebut. Wuahhhh kebeneran … ngarep … hehehe.


‘Kamu tidak memberitahukannya isi hatimu? Tidak ada kata terlambat.’


‘Saat ini sudah tidak bisa dan tidak boleh, aku tidak mau membuatnya bimbang. Aku tidak mau menjadi orang yang egois. Terlalu besar cintaku, untuk melakukannya. Bukankah cinta tidak harus memiliki?’


‘Bodoh kamu, Josh. Gimana dia bisa mempertimbangkanmu kalau kamu tidak pernah ngomong ke dia?’


'Aku kaget waktu dia memberitahuku kalau akan menikah dan memintaku untuk menjadi salah satu pendamping pengantin. Aku tidak sanggup menolak, karena ini kesempatan terakhirku untuk melihatnya ... sebelum dia menjadi milik orang lain.’


Aku berusaha menutupi kekagetanku, ternyata perempuan beruntung itu Sally, pengantin wanita di pernikahan ini. Pantas dia selalu gelisah setiap berdekatan dengannya. Kupikir awalnya hanya grogi karena tidak terbiasa menjadi pengapit. Makanya setelah selesai bertugas, saat dia mengajakku ke luar mencari udara segar, aku mengikuti.


Dia bercerita, bahwa Sally merupakan cinta pertamanya. Di saat usia masih belia, mereka sempat jalan bersama secara diam-diam selama beberapa bulan. Tapi akhirnya Sally memilih berpisah karena hubungan mereka tetap tidak disetujui orang tua. Selulus SMU, mereka terpisah, kuliah di kota yang berbeda. Menjalani hidup masing-masing.


‘Aku tidak bisa melupakannya, meski sudah beberapa kali berganti pasangan. Selalu ada satu tempat di ruang hati ini, yang tidak tergantikan oleh yang lain. Sampai kapan pun.’


But life must go on, Josh, kalau kamu sudah memilih untuk melepaskan dan membiarkannya menjadi milik orang lain, kamu harus konsekuen. Semua pilihan ada konsekuensinya. ‘


***


Once in a while

You are in my mind

I think about the days that we had

And I dream that these would all come back to me

If only you knew every moment in time

Nothing goes on in my heart

Just like your memories
How I want here to be with you

Once more


You will always gonna be the one

And you should know

How I wish I could have never let you go

Come into my life again

Oh, don't say no

You will always gonna be the one in my life

So true, I believe I can never find

Somebody like you

My first love


***


Lagu ‘First Love’ Utada Hikaru terdengar dari kejauhan, kusentuh tangannya lembut. ‘Masuk yuk, dingin lama-lama di sini.’ Masih ada aku di sini, perempuan lain yang diam-diam mengagumimu. Akan kuhapus luka hatimu. Meski aku tahu, namanya akan selalu ada di sana, tapi … tunggu saat itu tiba, akan kuisi ruangan lain yang tersisa dengan namaku … I promise


***


Once in awhile

You are in my dreams

I can feel the warmth of your embrace

And I pray that it will all come back to me

If only you knew every moment in time

Nothing goes on in my heart

Just like your memories

And how I want here to be with you

Once more

yah yah yah


You will always be inside my heart

And you should know

How I wish I could have never let you go

Come into my life again

Please don't say no

Now and forever you are still the one

In my heart

So true, I believe I could never find

Somebody like you

My first love

oh oh


You will always gonna be the one

And you should know

How I wish I could have never let you go

Come into my life again

Oh, don't say no

You will always gonna be the one

So true, I believe I could never find

Now and forever


***


Batam, 25 September 2009, 15.19

... diilhami teman-temanku yang sulit melupakan first lovenya ...